Modif Yamaha Jupiter MX 135LC, 2006 (Tangerang)

Yamaha Jupiter MX 135LC milik Dedy Wahyudi ini sudah 215 cc. Untuk
mencapai kapasitas 215 cc, tentu harus main bore up dan stroke up.
Paling pertama dilakukan bore up dengan cara menggunakan seher piston
CBR 150R oversize 250. Jadi, diameternya 66 mm.
Boring pun ikut diganti pakai punya Honda Tiger. “Supaya piston bisa
masuk ke silinder blok,” jelas Kiki Pramono asal bengkel Nusantara Motor
di Jl. Ciledug Raya, Gg Langgar, No. 55, Tangerang.
Menggunakan seher dan boring segede itu, dipastikan mengganggu water
jacket atau saluran air pendingin. Supaya tetap menggunakan pendingin
air, ditutup dan dibikin jalur baru. Masuk dari atas dan keluar dari
bawah.

Klep EE dikecilin jadi 26/23 mm, Blok silinder diganjal 6 mm
Setelah itu disusul main stroke up. Supaya langkah lebih panjang,
posisi pusat big end digeser 2 mm. Naik-turun 2 mm, jadinya stroke total
bertambah 4 mm. Sehingga total langkah piston kini 62,7 mm.
Jadinya bisa dihitung kapasitas silindernya. Dari diameter seher 66
mm dan stroke 62,7 mm. Volume silinder kini 214,4 cc, atau kalau
digenapkan jadi 215 cc.

Namun
akibat naik stroke dan diikuti pemakaian setang seher asli Kawasaki
Ninja 150R, dipastikan posisi blok harus diganjal. Dimaksudkan agar
seher tidak mentok kepala silinder. Apalagi setang milik Ninja lebih
panjang 4 mm.
Abas, panggilan akrab Dedy Wahyudi menggunakan paking tebal dari
bahan duralium. “Tebal paking ini 6 mm,” jelas Abas dan Kiki kompak.
Untuk mengimbangi silinder yang sudah bengkak, klep isap dan buang
diganti. Pakai yang ukuran payungnya lebih lebar. Dipilih klep yang
punya kode EE, aslinya klep ini milik Mitsubishi Lancer. Standarnya klep
ini punya ukuran 31 mm untuk klep isap dan 25 mm untuk ex.
Namun dipasang di head MX dibikin kecil. Klep isap dibuat 26 mm dan
ex 23 mm. “Pemakain klep EE dirasa lebih kuat karena batangnya 5 mm dan
panjang klep bisa diatur dengan cara dibubut,” tambah mekanik yang
berbadan subur itu.
Selain itu, pengabut bahan bakar diganti yang lebih gede. Aplikasi
karbu Keihin PE 28 yang direamer jadi 31 mm. Diseting dengan aplikasi
main-jet 150 dan pilot-jet 58.
Kemudian pengapian dibikin total loss. “Magnet dibubut agar ringan
dibikin jadi 750 gram,” jelas Kiki yang biasa dipanggil Kidut Geboy itu.
Untuk mengatur timing pengapian dipilih CDI BRT I-Max. Klop dipadukan
dengan koil YZ orisinal. “Selain api pembakaran lebih besar, torsi
lebih cepat dan tarikan atas sampai bawah ngisi terus,” tegas Abas.
Pekerjaan terakhir benahi aliran gas buang. Knalpot orisinil diganti.
Sebagai gantinya, dipakai jenis model free flow buatan sendiri.
“Knalpot sangat berpengaruh pada power mesin. Karena pembuangan akhir
mesin yaitu dilubang pembuangan,” tutup Abas yang rambutnya beruban itu.
(motorplus-online.com)